Jangan Sampai Keterusan Kebiasaan Menggigit

Seperti yang telah disinggung, perilaku menggigit akan hilang dengan sendirinya. Sewaktu ia sudah mampu berbicara lancar, kesukaan menggigitnya biasanya juga akan hilang. Namun demikian, agar menggigit tidak menjadi sebuah perilaku yang bekelanjutan, Mama Papa bisa melakukan langkah-langkah ini:

  1. Pada saat anak menggigit, pencetlah hidungnya dengan lembut. Pada saat dipencet, si kecil akan membuka mulut karena tidak merasa nyaman.
  2. Jelaskan bahwa gigitannya membuat Anda sakit. Komunikasi dengan lemah lembut.
  3. Hindari memukul/memarahi batita pada saat ia menggigit orang lain. Selalu lakukan pendekatan kasih sayang. Ingat, si batita menggigit bukan untuk menyakiti orang lain.
  4. Berilah perhatian pada batita secara proporsional agar ia tidak mencari perhatian (dengan cara menggigit).
  5. Kembangkan kemampuan komunikasi anak, agar ia dapat menyampaikan isi hatinya dengan lebih baik.
  6. Jika si kecil merasa gigi/ gusinya gatal lantaran proses pertumbuhan gigi, teether umumnya dapat memberinya kenyamanan.
  7. Ciptakan lingkungan yang nyaman agar anak selalu dalam keadan bahagia. Anak yang bahagia, tidak perlu melampiaskan kekesalannya dengan menggigit.
  8. Jangan membiasakan menggigit batita sebagai bentuk “gemas”. Dengan langkah-langkah tadi, kebiasaan menggigit akan berkurang dan akhirnya berhenti.

Jika Keterusan Menggigit

Lewat usia batita, menggigit tidak lagi wajar. Contoh anak SD yang menggigit orang pada saat marah. Ini menunjukkan adanya perkembangan mental yang belum tertangani. Apalagi jika perilaku menggigitnya dibarengi dengan tingkah laku destruktif seperti memukul, menendang, merebut, menarik-narik dan sebagainya. Kasus ini biasanya mengindikasikan beberapa hal:

  1. Anak belum memahami bahwa perilaku menggigit menyakiti orang lain.
  2. Anak mengalami kecemasan, kekesalan atau gelisah, sehingga sebagai pelampiasan, menggigit benda di sekitarnya.
  3. Kemampuan berbicaranya rendah sehingga yang dilakukan adalah mengigit orang lain untuk menyampaikan isi hatinya.
  4. Anak tidak bisa mengontrol perilakunya.
  5. Anak mencari perhatian lingkungan.
  6. Memiliki hambatan perilaku, seperti pada sebagian anak autisme yang mengigit kalau marah. Indikasi-indikasi di atas dapat membantu Mama mencari tahu, kira-kira apa penyebab anak di atas usia batita masih suka mengigit. Bila perlu, minta bantuan psikolog untuk mencari penyebabnya, sekaligus solusinya.

Baca juga “ lembaga kursus bahasa Jerman di Jakarta “ agar anak mahir dalam berbahasa Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *