Perang Dagang Bikin Pertumbuhan Ekspor Global Anjlok

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Iskandar Simorangkir mengatakan, pengaruh perang dagang mengakibatkan pertumbuhan ekspor negara-negara di dunia ikut serta menurun.

Kendati seperti itu, pasca melunaknya tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) kepada dua mitra dagangnya merupakan Kanada dan Meksiko diinginkan bisa menurunkan panasnya tensi perang dagang yang tinggi kedepanya kepada China.

“Berhubungan global ekspor itu seluruh mengalami penurunan imbas (perang dagang). Untuk growth ekspor sendiri tampaknya baru Vietnam dan India saja yang masih belum turun,” ujar ia di Gedung Kemenko, Senin (10/6/2019).

Ia melanjutkan, kelanjutan perang dagang AS-China ke depan akan ditetapkan dari hasil pertumbuhan ekonomi AS kuartal II 2019.

“Kepastiannya itu sesudah pertumbuhan triwulan kedua, jikalau akibatnya pertumbuhan ekonomi AS menurun, itu pasti nggak akan berlangsung lama ketegangan AS-China. Tetapi jikalau turun, aku termasuk yakin nggak mungkin AS ngotot terus menerus perang dagang tensi tinggi seperti kini ini,” kata ia.

Sementara itu, untuk Indonesia, pihaknya mengevaluasi pemerintah sebaiknya mengurangi impor lebih-lebih dulu untuk produk-produk berakibat lantas. Produk itu adalah barang belanja modal yang dapat diproduksi di dalam negeri.

Baca Juga: Jual Meja Promosi sebagai penunjang bisnis Anda

“Sebab impor kita kontraksinya lebih besar dari ekspor imbas perang dagang ini karenanya salah satu caranya adalah mengerem dahulu impor yang tak berakibat lantas dan dapat diproduksi dalam negeri,” kata ia.

“Berimbas lantas itu contohnya barang-barang belanja modal, jikalau mesin-mesin baik tuh untuk investasi, ya jangan di rem. Dapat mengenerate lapangan profesi, output baru dalam ekonomi,” dia menambahkan.

China Ungkap Jurus Baru Tekan AS Berhubungan Perang Dagang

Sebelumnya, Pemerintah China disebut sudah meningkatkan tekanan pada Amerika Serikat (AS) guna memaksakan langkah-langkah ekonomi, sebagai respon atas buntunya perundingan perdagangan antara kedua negara.

Dalam sebagian hari terakhir, sebagaiman dikutip dari CNN pada Jumat, 7 Juni 2019, China sudah mengimbau warga negaranya untuk tak mengunjungi atau belajar di AS, yang berpotensi merugikan universitas dan destinasi liburan Negeri Paman Sam.

Kusutnya kekerabatan diplomatik antara kedua negara disebut berkaitan gagalnya diskusi perdagangan bulan lalu.

Perundingan sudah ditangguhkan tanpa batas waktu semenjak Donald Trump meningkatkan biaya kepada seluruh impor China, yang dituduhnya gagal mempertahankan janji dalam kesepakatan dagang sebelumnya.

Sebaliknya, China juga merespon dengan versi hukumannya sendiri kepada barang-barang AS, yang mulai berlaku minggu lalu.

Sekarang, banyak pihak menerka-nerka apakah kedua negara bisa melanjutkan diskusi dagang pada akhir minggu ini, dikala Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menghadiri KTT ekonomi G-20 di Jepang.

Sejauh ini, pemerintahan Trump tidak mau bersepakat apakah Mnuchin akan berjumpa dengan mitranya dari Tiongkok, Wakil Perdana Menteri Liu He, di jeda-jeda KTT.

Baca juga: Raih kemudahan bisnis dengan Meja Promosi

Di antara pertemuan-pertemuan bilateral yang akan dikerjakan oleh Mnuchin di Fukuoka yakni pertemuan dengan pada menteri keuangan Jepang, Jerman, Prancis dan Italia, bersama dengan Gubernur Bank Rakyat China Yi Gang.

Sebelumnya, pada hari Kamis, Trump mengancam akan terus memberi lebih banyak tekanan pada China dalam wujud biaya tambahan senilai US$ 300 miliar, yang dialamatkan untuk barang-barang produksi Negeri Tirai Bambu, bila diskusi tak menciptakan kemajuan.

“Aku dapat naikkan (skor biaya) setidaknya US$ 300 miliar, dan aku akan menjalankannya pada waktu yang pas,” kata Trump terhadap wartawan di airport Shannon di Irlandia, di tengah lawatannya ke Prancis.

“Aku pikir China berkeinginan membikin kesepakatan yang buruk,” lanjutnya pesimis.

Di lain pihak, China juga sudah mengisyaratkan “tak akan patuh di bawah tekanan” Amerika Serikat, lebih-lebih pada situasi sulit-situasi sulit utama berkaitat dengan kedaulatan negara, berdasarkan laporan kebijakan pemerintah seputar situasi sulit perdagangan yang dirilis minggu lalu.

China menyalahkan AS atas kebuntuan perdagangan terkini, dan menyebut hal itu sebagai gangguan besar.

Beijing juga menuduh taktik “Amerika Pertama” yang dilaksanakan pemerintahan Trump di Gedung Putih, sudah merusak ekonomi global, dan sengaja menyampingkan potensi kembali ke meja negosiasi.

“China terbuka untuk perundingan, namun juga akan berjuang hingga akhir bila dibutuhkan,” kata laporan itu.

Berpengaruh Negatif

Perdagangan akan menjadi salah satu prioritas utama yang dibahas pada pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral akhir minggu ini.

Berdasarkan sebagian pengamat, pertemuan hal yang demikian enderung memperingatkan bahwa pengaruh negatif dari bermacam perkelahian perdagangan –yang dipicu oleh pemerintahan Trump– bisa berbahaya pertumbuhan ekonomi global.

Meningkatnya risiko perdagangan menunjang Ketua Federal Reserve –Bank Sentral AS– Jerome Powell, pada hari Selasa, untuk meyakinkan pemberi modal bahwa pembuat kebijakan mengawasi dengan ketat kepada ketegangan perdagangan.

\\\”Kami tak tahu bagaimana atau kapan situasi sulit perdagangan ini akan selesai,\\\” kata Powell, mengobrol pada konferensi yang diselenggarakan oleh Chicago Federal Reserve Bank.

Ia menambahkan bahwa bank sentral AS akan mengambil langkah \\\”pas\\\” untuk mempertahankan ekspansi ekonomi Negeri Paman Sam di tengah bermacam perkelahian perdagangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *