Kepedulian Terhadap Anak Pedalaman

Kepedulian Terhadap Anak Pedalaman

Kepedulian Terhadap Anak Pedalaman – Jauhari bernaung di bawah rumah yang kokoh bersama istri dan enam orang anaknya. Anak sulungnya, Jailani, baru saja menikah dan membangun rumah sendiri di sisi lain Sungai Pejudian. Dahulu, kata Jauhari, Suku Anak Dalam tidak mengenal bidan. Mereka terbiasa meracik obat sendiri. Mereka juga tidak menderita penyakit yang aneh-aneh. Paling demam atau panas tinggi. Jika sudah begitu mereka akan lari ke hutan mencari daun empedu tanah, merebusnya lalu meminum airnya.

Kini daun itu tak ada lagi. Mau dicari ke mana, hutan ini sudah habis, ujarnya. Suku Anak Dalam sejak lama telah dikenal sebagai suku pengembara yang telaten meramu obat herbal. Jika segala ramuan dari daun dan akar pohon tak mampu menyembuhkan si sakit, Suku Anak Dalam akan memanggil tabib untuk memanjatkan doa dan mantra-mantra. Jika si sakit tak kunjung sembuh, dia harus direlakan pergi. Tahun ini, Suku Anak Dalam telah menikmati aliran listrik yang bersumber dari panel-panel surya di beberapa titik.

Kini sudah ada lampu-lampu listrik. Terangnya tergantung matahari juga,” tutur Jauhari. Menurut Jauhari, mereka kini tidak bisa lagi bergantung pada hutan yang kian sempit. Satu-satunya penunjang kehidupan mereka yang tersisa hanya Sungai Pejudian.Pada sungai itu segala harapan untuk bertahan disandarkan.

Sekitar dua tahun yang lalu, kata Jauhari, orang yang mengaku dari Pertamina datang menemuinya. Tidak lama setelah kedatangan yang pertama, orang-orang itu datang lagi membawa setumpuk pakaian. Saat itu saya percaya jika mereka tulus hendak membantu kami, kata Jauhari. Perlahan, Jauhari me yakinkan anggota kelompoknya bahwa ada orang-orang yang benar-benar ingin membantu mereka. Dalam kurun waktu dua tahun, sejumlah perubahan terjadi pada kehidupan kelompoknya.

Mereka kini menikmati air Sungai Pejudian yang lebih bersih hasil penyu lingan, tempat bernaung kini dialiri listrik, anak-anak bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung, pelajaran yang tidak pernah dicicip Jauhari dan generasi di atasnya. Suku Anak Dalam yang hidup menyebar, kini saling berdekatan. Jika seharian cuaca cerah, mereka bisa memasak apa saja berkat tenaga surya. Malam harinya, rumah-rumah akan bermandikan pijar cahaya. Suku Anak Dalam kini telah membuka diri atas apa yang datang dari luar. Namun, kerasnya hidup di rimba telah mendorong beberapa orang Suku Anak Dalam untuk hidup di luar.

Tetapi, tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan selain jadi buruh dan pekerja kasar. Di luar banyak pekerjaan menguntungkan, tetapi paling tidak harus punya ijazah SMA. Hal yang paling membuat hati Jauhari lapang adalah kesempatan yang kini dimiliki anak-anaknya untuk mendapat pendidikan. Tidak hanya anaknya, tetapi juga semua generasi penerus Suku Anak Dalam. Reny Ayu Wulandari seakan mewujudkan mimpi pendidikan bagi Suku Anak Dalam.

Reny barangkali adalah orang luar yang terlama hidup bersama Suku Anak Dalam di tepi Sungai Pejudian. Hampir dua tahun silam, saat umurnya belum genap 22 tahun, ia memutuskan untuk mengajari anak-anak Suku Anak Dalam membaca, menulis, dan berhitung. Mendekatkan diri pada anak-anak Suku Anak Dalam bukanlah pekerjaan sulit bagi nya, tapi mendapat kepercayaan dari orang tua mereka adalah tantangan pertama. Pun, mengenal aksara dan menulis dalam adat Suku Anak Dalam adalah pantangan.

Sejak awal kedatangannya, Jauhari telah membuka pintu untuk Reny, menjadikan rumahnya sebagai “sekolah”. Namun, anak-anak ternyata tidak senang dikurung. Reny lalu membuka kelas di hutan dan di sungai. Reny menggantungkan angka dan huruf di lembaran kertas pada sebatang pohon. Anak-anak akan memanjat pohon itu mengambil setiap huruf yang disebutkan Reny. Ia juga menancapkan kayu-kayu yang telah ditempeli huruf dan angka di sungai. Menurut Reny selain membuka pikiran Suku Anak Dalam tentang perkembangan dunia, semua pihak juga punya tanggung jawab yang sama untuk membuka diri, melihat Suku Anak Dalam secara setara.

Jadi, kami dipersilakan duduk lalu disuguhkan minum. Awalnya saya kira itu teh, karena warnanya mirip. Begitu saya teguk rasanya tawar saja. Eh, air Sungai Pejudian ternyata, kata Nurseno, lelaki Jawa berperawakan besar. Seno, sapaan akrabnya, bekerja sebagai CSR O icer di JOB Pertamina Talisman Jambi Merang (PTJM). Mengusung program bertajuk Barisan Selempang Cinta Bumi, JOB PTJM membangun sebuah sistem lilterisasi air. Setelah disaring, air tersebut lebih aman untuk dikonsumsi. Dari sungai, air akan dinaikkan ke tabung penyimpanan melalui pipa-pipa menggunakan permainan ayunan yang didesain khusus. Saat anak-anak bermain ayunan, air sungai otomatis terpompa naik dan siap disaring.

Diberikan Pelatihan SEO Gratis

Beruntunglah bagi anak pedalaman yang sedikit memahami tentang bisnis online, mereka mendapatkan pelatihan seo gratis selama tiga bulan dengan bimbingan dari ahlinya. Pelatihan ini diharapkan mampu memberikan skill tambahan untuk mereka yang ingin terjun dan mengadu nasib di sektor bisnis online.

Alternatifnya, mereka bisa membuka usaha sendiri seperti jasa seo murah di semarang, sehingga pendapatan bulanan bisa lebih banyak dari yang sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *