Cara Melaksanakan Haji

Cara Melaksanakan Haji
Ibadah haji adalah tidak benar satu rukun Islam yang lima, yang diwajibkan oleh Allah atas muslim yang udah mencukupi syarat-syaratnya. Diwajibkan sekali seumur hidup, yang ke dua kali dan seterusnya hukumnya adalah sunnat.
Firman Allah SWT:
…وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: ”… dan jadi kewajiban bagi manusia pada Allah berhaji ke ka’bah itu, yakni (bagi) orang yang dapat datang ke di pada mereka.” (Q.S Al-Imran: 97)
Adapun tata langkah pelaksanaan ibadah haji yaitu:
a. Ihram
Yaitu bermaksud ihram untuk jalankan ibadah haji bersama dengan mengfungsikan pakaian ihram, yakni rida’ ( selendang ) yang menutup badan anggota bawah. Pakaian ihram warnanya putih, bersih, dan tidak berjahit. Berihram di awali berasal dari miqat (batas yang ditentukan), yakni miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat)
Hal-hal selanjutnya merupakan adab-adab ihram:
1) Kebersihan: wudhu atau mandi, memotong kuku, menggunting kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, merapikan jenggot dan rambut.
2) Memakai pakaian ihram tanpa penutup kepala
3) Memakai minyak wangi
4) Shalat dua rakaat bersama dengan niat sunah ihram. Pada rakaat pertama sehabis Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun, dan rakaat ke dua surat Al-Ikhlas.
5) Mengucapkan talbiyah (Sayyid Sabiq, 1978:85).
Bacaan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
Artinya: Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, saya menjawab panggilan-Mu, saya menjawab panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, saya menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.

b. Tawaf
Yaitu melingkari Ka’bah., yakni melingkari Ka’bah sebanyak tujuh kali.Ka’bah berada di sebelah kiri kami atau berkeliling berlawanan bersama dengan arah jarum jam sambil berdoa.
Macam-macam tawaf:
1) Tawaf qudum: ditunaikan pada selagi baru datang di Masjidil haram (Makkah), disebut bersama dengan Tawaf tahiyat (penghormatan).
2) Tawaf ifadah: ditunaikan sehabis bertolak berasal dari Padang Arafah
3) Tawaf wada’: ditunaikan disaat dapat meninggalkan Masjidil Haram
4) Tawaf sunah (tawaf tawattu’), ini dapat ditunaikan tiap-tiap tersedia kesempatan, tanpa tersedia lari-lari kecil di dalamnya.
Syarat-syarat tawaf adalah suci berasal dari hadas besar dan hadas kecil, suci berasal dari najis, menutup aurat, tersedia tujuh kali putaran yang sempurna, tawaf di awali berasal dari Hajar Aswad dan diakhiri pula di Hajar Aswad, Baitullah selamanya di sebelah kiri, bertawaf di luar baitullah dan di luar Hijir Ismail.
Mengenai langkah pelaksanaanya adalah sebagai selanjutnya :
1) Memulai berasal dari Hajar Aswad bersama dengan menciumnya atau menyentuhnya bersama dengan tangan. Ketika jalankan tawaf, Ka’bah selamanya di sebelah kiri.
2) Pada tiap putaran pertama disunahkan berlari-lari kecil bersama dengan langkah-langkah yang pendek dan mendekati Ka’bah. Adapun kaum wanita tidak disunahkan lari-lari kecil di dalam tawaf. Pada empat putaran berikutnya, ditunaikan bersama dengan berlangsung biasa saja.
3) Disunahkan memperbanyak dzikir dan doa dalam tawaf. Orang yang tawaf dapat berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya dan untuk saudara-saudaranya yang ia kehendaki perihal kebaikan dunia dan akhirat. Disunahkan pulamelakukan tawaf secara berurutan.
Setelah selesai tawaf, jika keadaan amat mungkin maka menuju ke Multazam (tempat pada Hajar Aswad dan pintu Ka’bah). Tempat ini adalah tempat yang mustajab untuk berdo’a. Kemudian pergi ke belakang makam Nabi Ibrahim selanjutnya salat dua rakaat. Membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua. Setelah itu, salat sunah di Hijir Ismail, lantas minum air zam-zam yang di sajikan di lingkungan masjidil Haram atau di sumbernya. (Nuruddin Shiddiq, 1993: 25)
Dalam buku lain dijelaskan bahwa: Hal yang ditunaikan Rasulullah saw. disaat selesai tawaf adalah beliau pergi ke belakang makam Nabi Ibrahim selanjutnya salat dua rakaat. Membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at ke dua (T.M Hasbi ash-Shiddiqie, 1976:213).

c. Sa’i
Yaitu berlari-lari kecil pada bukit Safa dan bukit Marwah.
Adapun beberapa syarat sa’i sebagai selanjutnya :
1) Dilakukan sehabis tawaf
2) Dimulai berasal dari Safa dan diakhiri di Marwah
3) Melakukan tujuh kali putaran
Dilakukan pada tempat sa’i, yakni jalur yang memanjang pada Safa dan Marwah, sesuai bersama dengan perbuatan Rasulullah.

d. Wuquf di Arafah
Pada tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) seluruh jamaah haji berangkat ke Padang Arafah untuk wuquf. Hadir di Padang Arafah pada selagi yang ditentukan, yakni menjadi berasal dari tergelincirnya matahari (waktu Lohor) tanggal 9 bulan haji hingga terbit fajar tanggal 10 bulan haji. Artinya orang yang mengerjakan ibadah haji mesti berada di padang Arafah pada selagi selanjutnya (Sulaiman Rasyid, 1986:253). Wuquf berarti hadir di padang Arafah pada selagi tersebut.
Wuquf adalah puncak rukun ibadah haji. Dan orang yang tidak wuquf di Arafah sebelum fajar menyingsing, maka gugurlah hajinya.

e. Bermalam di Muzdalifah
Muzdalifah beradal berasal dari kata zafartinya dekat. Tempat itu dinamakan Muzdalifah dikarenakan orang yang bermalam di sana dapat menjadi dekat bersama dengan Allah. Di dalam Al-Qur’an dinamakan masy’aril haram (monumen suci), dan di tempat inilah yang diperintahkan agar mengingat Allah.
Apabila jamaah haji udah tiba di Muzdalifah, mereka jalankan salat Maghrib tiga rakaat, salat Isya dua rakaat bersama dengan qasar dan jama’ takhir bersama dengan satu adzan dan dua iqamah, dan tidak salat sunah pada salat itu.
Di Muzdalifah terlebih di Masy’aril Haram, memperbanyak membaca zikir bersama dengan hati yang khusyu dan ikhlas, di sini terhitung mencari batu kecil untuk digunakan melontar jumrah di Mina.

f. Bermalam di Mina
Setelah salat Subuh, jamaah haji baru berangkat ke Mina. Setelah hingga di Mina, jamaah haji segera menuju ke tempat melontar jumrah aqabah bersama dengan posisi berdiri dan Kiblat berada di sebelah kiri, dan Mina di sebelah kanan, tidak jauh bersama dengan sasaran melempar jumrah agar batu-batu yang dilontarkan tidak meleset. Pada selagi melontar, jamaah haji pun berhenti dan mengucapkan talbiyah. Kemudian menjadi melontarkan sebutir batu hingga tujuh kali lontaran dan tiap-tiap lontaram disertai ucapan (Slamet Abidin, 1998:295) :
الله اكبر اللهم اجعله حجا مبرورا وذنبا مغفورا
Artinya: “Allah Maha Besar, ya Allah, jadikanlah ibadah hajiku ini haji yang mabrur dan dosaku dosa yang diampuni”.
Bermalam di Mina ditunaikan pada hari Tasyriq, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

g. Melontar Jumrah
Pada tanggal 10 Dzulhijjah sehabis terbit fajar, jamaah haji menuju ke tempat melontar Jumrah Aqabah. Kemudian menjadi melintar Jumrah Aqabah bersama dengan 7 butir batu satu persatu diiringi bersama dengan takbir dan do’a. Setelah itu, jalankan tahallul pertama.

h. Tahallul
Yaitu penghalalan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} larangan dalam berikhram. Contohnya: memakai pakaian biasa, bercukur, memakai wewangian, dan yang lainnya, jika bersetubuh bersama dengan istri selamanya dilarang (haram), hingga selesai jalankan tawaf ifadah, yakni yang dinamakan tahallul kedua, berarti seluruh larangan yang berlaku selagi tengah berihram udah dibolehkan kembali, terhitung mengadakan jalinan suami istri.

i. Kemudian kembali ke Mekkah selanjutnya bertawaf ifadah.
Tawaf ini adalah rukun. Dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah sehabis malontar Jumrah Aqabah. Cara melakukannya layaknya disaat tawaf qudum.
Setelah selesai Tawaf, lantas salat sunah Tawaf dua rakaat dan berdoa sesuka hati. (Nuruddin Shiddiq, 1993: 48). Dengan ini berarti sjamaah haji udah jalankan tahallul kedua.

j. Kembali ke Mina
Setelah salat maghrib jamaah haji kembali ke Mina untuk mabit di sana. Hal ini terhitung wajib. Pada tanggal 11 Dzulhijjah, kembali melontar tiga Jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) dilontar pada tanggal 11-12-13 Dzulhijjah. Tiap-tiap jumrah dilontar bersama dengan 7 batu kerikil. Waktu melontar ialah sehabis tergelincir matahari.
Syarat melontar:
1) Dengan tujuh batu, dilontarkan satu persatu
2) Menertibkan tiga jumrah, di awali berasal dari Jumrah yang pertama, kedua, lantas yang terakhir.
3) Alat untuk melontar adalah batu, tidak sah melontar bersama dengan tak sekedar batu.

k. Tawaf Wada’
Apabila udah kembali ke Makkah dan sudi kembali ke kempung atau tanah air, hendaklah mengerjakan Tawaf Wada’. Tawaf ini wajib. Orang yang tidak mengerjakannya diketika sudi kembali itu, boleh balik kembali ke Makkah untuk bertawaf jika belum melampaui miqat. Kalau tidak kembali, hendaklah menyembelih seekor kambing. (T.M. Hasbi ash-Shiddiqie, 1977:190).

Artikel Terkait
Badal HajiTravel Haji Umrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *