Kapan Hadrah di Gunakan?

Hadrah berasal dari bhs Arab, yakni hadlaro-yahdluru-hadlran (hadlratan), yang memiliki makna datang atau kehadiran. Pendapat lain menyatakan bahwa arti ini disita dari nama sebuah wilayah yang bernama Hadramaut. Ada termasuk yang menyatakan jikalau Hadrah berasal dari negeri Parsi.

Kesenian Hadrah dikenal sebagai keliru satu bentuk kesenian didalam Islam yang diiringi dengan rebana (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair pujian (bahkan tersedia yang mengatakannya sebagai dzikir) pada Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang berpendapat bahwa kesenian ini adalah sejenis puisi rakyat yang membawa unsur-unsur keagamaan, contohnya ketika orang-orang Madinah menyambut kehadiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Hadrah dikenal termasuk sebagai media khotbah, wirid, dan pembacaan Qur’an.

Kesenian ini sebetulnya dipakai oleh kaum Anshar untuk menyambut kehadiran Nabi sesudah hijrah dari Makkah. Syair yang dilantunkan adalah shalawat “Thala’al Badru” sebagai ungkapan kebahagiaan mereka atas Kedatangan Nabi. Namun di saat itu, alat musik yang dipakai masih sederhana. Dalam perkembangannya, kesenian ini memiliki alat musik dominan, yakni tamborin. Juga tersedia gendang yang dipukul oleh lima orang atau lebih, satu orang penyanyi, dan delapan orang penari atau lebih.

Baca Juga: Jual Hadrah

Biasanya, kesenian ini dimainkan oleh para sufi. Ini adalah imbas dari orang yang pertama kali memperkenalkannya, yakni seorang tokoh tasawuf yang bernama Jalaludin Rumi Muhammad Bin Muhammad Al-Balkhi Al-Qunuwi. Ia termasuk seorang penyair yang karya-karyanya banyak diperbincangkan oleh para sarjana dan pakar, baik Timur maupun Barat. Karya-karyanya adalah Diwan al-Syams Tabrizi, Matsnawi, Ruba’iyyat, Fihi ma Fihi, dan Majalis al-Sab’ah.

Di Indonesia, kesenian hadrah ini menjadi bagian dari penduduk khususnya di kalangan pesantren. Seni ini diperkenalkan kepada penduduk Indonesia lebih kurang abad ke-13 H oleh seorang ulama besar dari negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi (1259-1333H/1839-1931 M). Awal mula ia mampir ke Indonesia adalah untuk dakwah Islam. Dalam dakwahnya ini, ia iringkan pula suatu kesenian Arab berwujud pembacaan shalawat yang diiringi rebana. Kesenian ini kemudian dikenal dengan Seni Hadrah. Ia mengembangkannya melalui pendirian sebuah majelis shalawat sebagai fasilitas mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW.

Para Wali Songo kemudian mengembangkan seni ini didalam dakwahnya. Tiap diselenggarakan perayaan Maulid Nabi, kesenian ini turut pula diperdengarkan di serambi Masjid Demak. Lama-kelamaan, kesenian ini dipakai pula untuk mengiringi acara-acara lainnya, seperti pernikahan, khitanan, haul, majelis taklim, bahkan menjadi sebuah kegiatan ekstrakurikuler baik di sekolah ataupun di pesantren.

Jenis-Jenis Hadrah
Beberapa jenis Hadrah yang populer di Indonesia berdasarkan ketukan pada rebana sebagai berikut:

Hadrah al-Banjari
Jenis pukulan Hadrah ini terlampau pelan didalam ketukan. Hal ini terdengar pada ketukan pembukaan didalam suatu lagu atau syair yang dilantunkan.

Hadrah Pekalongan/Dema’an
Pada jenis ini, ketukan terdengar lebih cepat jikalau dibandingkan dengan ketukan Hadrah al-Banjari, akan namun ketukan ini tidak secepat Hadrah Habsyi. Inilah jenis yang kerap digunakan didalam perlombaan di kalangan grup Hadrah di Indonesia.

Hadrah Habsyi
Pukulan yang terdapat didalam Hadrah Habsyi ini terdengar cepat, karena adanya ritme di didalam lagu-lagu yang diiringinya mempunyai irama cepat. Jenis ini lazim digunakan di didalam majelis-majelis Maulid Nabi.

Hadrah di Malaysia
Di negeri ini, kesenian Hadrah membawa cerita asal mula yang berbeda. Konon, terdapat {beberapa|sebagian|lebih dari satu} orang yang tersesat di hutan. Mereka lantas menyanyi dan memperdengarkan bunyi-bunyi agar suaranya mampu didengar orang. Sumber lain di negara ini menyatakan bahwa permainan Hadrah merasa keluar di Perlis dan bermula pada 1910.

Artikel Terkait: Jual Karpet Masjid

Jumlah pemain kesenian ini kebanyakan terdiri dari 10 hingga 13 orang. Lagu yang didendangkan ialah Selamat Datang (Thala’al Badru), Ampun Tuanku, Ayuhai Lakampare, Khadami, Yas Sare, Fatimah Eto, dan Perpaduan. Isi lagu-lagu Hadrah ini bercampur-campur temanya. Alat musik lain yang mengiringinya adalah gendang, gong, dan biola. Kesenian ini dipertunjukkan pada acara-acara ritual keagamaan. Namun pada perkembangannya, termasuk dimainkan di acara-acara lainnya.

Kostum yang dikenakan pemain laki-laki adalah busana Melayu bagi lelaki. Untuk pemain perempuan mengenakan busana kebaya, busana kurung, bandung pesak, dan berselendang.

Tarian
Di Malaysia ini pun, gerakan indah Hadrah merasa diperkenalkan lebih kurang th. 1910 di Pulau Pinang. Dalam perkembangannya, tarian ini menjadi terlampau populer di th. 1950-an dan 1960-an, khususnya bagi penduduk di Utara Semenanjung Malaysia, seperti Perlis, Kedah, Perak, dan Pulau Pinang.

Di selatan Semenanjung Malaysia, Hadrah ini lebih dikenali sebagai Kompan’, saat di Pantai Timur negeri ini, lebih dikenali sebagai Rebana Kencang. Para penari berjumlah 15 hingga 30 orang. Mereka ini keluar lebih pernah sambil menyanyi, menari, dan memukul Kompang. Terdapat dua orang laki laki dewasa namun berpakaian perempuan yang kemudian menyanyi dan menari di pertengahan pertunjukan ini.

Di Indonesia sendiri, tarian Hadrah ini sudah begitu populer. Gerakan indah ini adalah dinamika gerakan Rebana Terbangan. Di th. 1990, {beberapa|sebagian|lebih dari satu} kareografer dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo jalankan penggabungan tarian Hadrah yang dinamis. Kolaborasi ini diiringi musik Terbang Jidor.

Hadrah kini banyak dimainkan tidak hanya di Indonesia dan Malaysia, namun termasuk di Brunei Darussalam. Musik dan tarian ini kemudian sudah terlampau tercampur oleh Budaya Melayu.

Instrumennya pun menjadi lebih beragam. Didominasi tamborin, hadrah kadang waktu ditambah dengan ketipung tom-tom, kecapi, dan suling. Lagu-lagunya, kalau didalam bhs Arab, dinyanyikan secara ritmis.

Mendengarkan irama seperti ini beserta syair-syairnya dipercaya mampu lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Bahkan tersedia {beberapa|sebagian|lebih dari satu} orang meyakini bahwa kesenian ini mampu menyembuhkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke.

Musik dan tarian ini pun sudah berkembang tidak melulu untuk media dakwah, namun termasuk untuk hiburan komersial.

Saat ini di Indonesia, terdapat {beberapa|sebagian|lebih dari satu} komunitas seni Hadrah, di antaranya adalah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), keliru satu badan otonom yang berada di bawah naungan NU. ISHARI disahkan pada 1959 M. Pengorganisasian dan nama ISHARI ini diusulkan oleh KH. Wahab Chasbullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *