Lepas dari Masalah Anus yang Diawali Sembelit

Minum Susu, Muntah

originals.id – “Bahagianya aku saat menyambut kelahiran putriku, Li­ . Semua persiapan telah dilakukan. Sebagaimana ibu lainnya, aku pun meyakini bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk putriku. Aku pun memberikan ASI eksklusif selama tiga bulan. Namun, setelah masa cutiku habis, dengan sangat terpaksa ASI harus dicampur susu formula karena produksi ASI-ku mulai berkurang. Semula Li­ tidak bermasalah dengan susu formula yang kupilih, namun di usia 5 bulan 20 hari, Li­ muntah-muntah seusai diberikan susu.

Muntah-muntah ini terus berlangsung setiap Li­ minum susu. Dokter menyarankan agar susunya diganti dengan susu khusus untuk membangun daya tahan tubuh dan membantu saluran cerna. Ternyata, benar. Anakku tidak muntah-muntah lagi. Li­ terus mengonsumsi susu tersebut sampai dengan usia setahun. Setelah ulang tahun pertama, saya berniat mengganti susunya dengan susu biasa. Pertimbangannya, pencernaan Li­ sudah semakin kuat, sudah tidak bermasalah lagi dengan lemak susu.

Beberapa minggu pertama, Li­ tidak mengalami masalah. Namun, lambat laun, aku amati setiap buang air besar Li­ agak kesusahan. Dari hari ke hari, tinjanya semakin keras. Mulailah Li­ menangis setiap harus BAB. Aku menduga karena tinja yang keras. Pola makan Li­ pun kuubah dengan memperbanyak serat. Ternyata, perubahan itu tidak berdampak pada pola BAB. Li­ tetap kesakitan.”

Diselamatkan Operasi

“Karena setelah pengobatan pertama tidak ada kemajuan, aku mendatangi dokter speasialis kulit dan kelamin untuk melakukan konsultasi. Menurut dokter, Li­ menderita ­ ssura ani, yakni daging tumbuh di sekitar anus akibat sembelit yang diderita dalam waktu cukup lama. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi guna memotong daging tumbuh dan menjahit bagian anus yang sobek. Mendengar keputusan dokter, aku bimbang.

Saat itu, Li­ masih berusia 1,8 tahun. Menurutku, masih terlalu kecil untuk operasi. Rasanya tidak tega. Namun, itu satu-satunya jalan yang harus dilakukan karena bila tidak dioperasi Li­ akan tetap mengalami kesulitan BAB dan kesakitan. Dengan berat hati, setelah melalui perundingan panjang dengan suami, kami memutuskan untuk melakukan operasi. Operasinya memang tergolong ringan, tapi sedih melihat Li­ harus dibius dan diinfus pasca-operasi. Beruntung operasi berjalan lancar. Hanya saja, Li­ menjadi rewel ketika di rumah sakit.

Pasca-operasi, Li­ juga harus minum obat pencahar selama satu bulan penuh agar tidak terjadi luka lagi di bagian anus. Aku juga disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter anak bagian pencernaan. Dokter menyarankan agar Li­ mengurangi susunya cukup 400 ml per hari dengan ukuran sesuai takaran di kemasan, tidak boleh kental. Bila merengek minta minum dialihkan untuk minum air putih, jus atau air madu. Beruntung aku berhasil disiplin. Seiring dengan perubahan jumlah susu yang diminum, Li­ mau makan dan tinjanya sudah tidak keras lagi. Saat ini, Li­ sudah memiliki pola BAB yang normal.”

Daging Tumbuh

“BAB Li­ malah semakin keras. Aku juga amati, ada perubahan pada bentuk tinjanya. Bentuknya kecil-kecil mirip kotoran kambing. Yang paling menyedihkan, saat BAB LI­ akan menangis keras karena tinja yang semakin keras dan berukuran besar. Pola BAB-nya juga mengalami perubahan menjadi dua hari sekali, bahkan pernah sampai 4 hari sekali. Ini tentunya membuat tinjanya semakin keras dan mulai ada darahnya. Ini pertanda sudah ada luka di bagian anusnya.

Aku pun berinisiatif mengamati kondisi anusnya. Ternyata ada daging tumbuh menyerupai bisul di sekitar anusnya. Mungkin ini yang menjadi penyebab Li­ sulit BAB. Oleh dokter anak yang kudatangi, Li­ diberi salep untuk dioleskan di sekitar daging tumbuh tersebut agar mengecil dengan sendirinya. Ternyata, setelah salepnya habis, tidak ada perubahan sama sekali. Li­ tetap menangis dan kesakitan saat BAB. Li­ belakangan lebih menyukai minum susu dan sulit makan. Dalam satu hari Li­ minum susu hingga 800 ml. Aku juga sempat mengubah pola minum susunya agar tidak terlalu dekat dengan waktu makannya. Namun, itu juga tidak membuat Li­ doyan makan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *