Tata Cara Menguburkan Jenazah

Menguburkan Jenazah
Disunnahkan membawa jenazah dengan usungan jenazah yang di panggul di atas pundak berasal dari keempat sudut usungan.

Disunnahkan menyegerakan mengusungnya ke pemakaman tanpa perlu tergesa-gesa. Untuk para pengiring, boleh berjalan di depan jenazah, di belakangnya, di samping kanan atau kirinya. Semua langkah tersedia tuntunannya didalam sunnah Nabi.

Para pengiring tidak dibenarkan untuk duduk sebelum saat jenazah diletakkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam udah melarangnya.

Disunnahkan untuk mendalamkan lubang kubur, sehingga jasad si mayit terjaga berasal dari jangkauan binatang buas, dan sehingga baunya tidak merebak keluar.

Lubang kubur yang dilengkapi liang lahad lebih baik daripada syaq. Dalam kasus ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Liang lahad itu adalah bagi kami (kaum muslimin), sedang syaq bagi tidak cuman kami (non muslim).”

Lahad adalah liang (membentuk huruf U memanjang) yang dibuat spesifik di dasar kubur terhadap anggota arah kiblat untuk tempatkan jenazah di dalamnya.

Syaq adalah liang yang dibuat spesifik di dasar kubur terhadap anggota tengahnya (membentuk huruf U memanjang).

– Jenazah siap untuk dikubur. Allahul musta’an.

– Jenazah diangkat di atas tangan untuk ditempatkan di didalam kubur.

– Jenazah dimasukkan ke didalam kubur. Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang lahat berasal dari arah kaki kuburan lalu diturunkan ke didalam liang kubur secara perlahan. Jika tidak memungkinkan, boleh menurunkannya berasal dari arah kiblat.

– Petugas yang memasukkan jenazah ke lubang kubur hendaklah mengucapkan: “BISMILLAHI WA ‘ALA MILLATI RASULILLAHI (Dengan menyebut Asma Allah dan berjalan di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam).” disaat menurunkan jenazah ke lubang kubur. Demikianlah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Disunnahkan membaringkan jenazah dengan berharap terhadap segi kanan jasadnya (dalam posisi miring) dan menghadap kiblat sambil di lepaskan tali-talinya tidak cuman tali kepala dan ke dua kaki.

– Tidak perlu tempatkan bantalan berasal dari tanah ataupun batu di bawah kepalanya, karena tidak tersedia dalil shahih yang menyebutkannya. Dan tidak perlu menyingkap wajahnya, jika seandainya si mayit meninggal dunia kala mengenakan kain ihram sebagaimana yang udah dijelaskan.

– Setelah jenazah ditempatkan di didalam rongga liang lahad dan tali-tali tidak cuman kepala dan kaki dilepas, maka rongga liang lahad tersebut ditutup dengan batu bata atau papan kayu/bambu berasal dari atasnya (agak samping).

– Lalu sela-sela batu bata-batu bata itu ditutup dengan tanah liat sehingga membatasi suatu hal yang masuk sekaligus untuk menguatkannya.

– Disunnahkan bagi para pengiring untuk menabur tiga genggaman tanah ke didalam liang kubur sehabis jenazah ditempatkan di dalamnya. Demikianlah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Setelah itu ditumpahkan (diuruk) tanah ke atas jenazah tersebut.

– Hendaklah meninggikan makam kira-kira sejengkal sebagai sinyal sehingga tidak dilanggar kehormatannya, dibuat gundukan seperti punuk unta, demikian bentuk makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam (HR. Bukhari).

– Kemudian ditaburi dengan batu kerikil sebagai sinyal sebuah makam dan diperciki air, berdasarkan tuntunan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam (dalam kasus ini terdapat riwayat-riwayat mursal yang shahih, silakan lihat “Irwa’ul Ghalil” II/206). Lalu ditempatkan batu terhadap makam anggota kepalanya sehingga gampang dikenali.

– Haram hukumnya menyemen dan membangun kuburan. Demikian pula menulisi batu nisan. Dan diharamkan terhitung duduk di atas kuburan, menginjaknya dan juga bersandar padanya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam udah melarang berasal dari hal tersebut. (HR. Muslim)

– Kemudian pengiring jenazah mendoakan keteguhan bagi si mayit (dalam menjawab pertanyaan dua malaikat yang disebut dengan fitnah kubur). Karena disaat itu ruhnya dikembalikan dan ia ditanya di didalam kuburnya. Maka disunnahkan sehingga sehabis selesai menguburkannya orang-orang itu berhenti sebentar untuk mendoakan kebaikan bagi si mayit (dan doa ini tidak dikerjakan secara berjamaah, namun sendiri-sendiri!). Sesungguhnya mayit dapat mendapatkan kegunaan berasal dari doa mereka.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Berdasarkan deskripsi tentang tata langkah pengurusan jenazah dapat disita sebagian hikmah, pada lain:

Memperoleh pahala yang besar.
Menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi salah satu sesame muslim.
Membantu meringankan beban kelurga jenazah dan sebagai ungkapan belasungkawa atas musibah yang dideritanya.
Mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa tiap tiap manusia akan mati dan tiap-tiap sehingga mempersiapkan bekal untuk hidup sehabis mati.
Sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, sehingga seandainya salah seorang manusia meninggal dihormati dan diurus dengan sebaik-baiknya menurut ketentuan Allah SWT dan RasulNya.

Artikel Terkait:
Tata Cara Sholat Jenazah & Tata Cara Sholat Jenazah dan Bacaanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *